Rabu, 19 Oktober 2011

Alat Musik Tradisional Lampung


”SERDAM” DIUJUNG SENJA

Oleh : Novan Adi Putra Saliwa (LITBANG IKPM Lam-Bar)

Lampung tidak hanya memiliki hewa besar seperti gajah saja namun juga memiliki kebudayaan yang tinggi serta luhur nilainya, khususnya dalam bidang kesenian tidak dipungkiri lagi lampung memiliki ragam jenis kesenian, mulai dari tari – tarian, musik tradisional, sastra klasik dan masih banyak lagi. Semua kekayaan tersebut terpencar disetiap pelosok lampung baik yang terdeteksi ataupun yang belum terjamah, setiap kabupaten di Lampung memilki ciri keseniannya masing - masing.
Lampung Barat merupakan salah satu penyumbang kekayaan khazanah kesenian di Nusantara ini, hingga ketika salah satu bagian dari sendi-sendi kesenian itu rusak atau bahkan punah maka semua cita-cita untuk memajukan Lampung Barat hingga dapat bersanding dengan daerah lain di nusantara akan sekedar menjadi angan angan belaka. Tergeraklah hati para mahasiswa Lampung Barat yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar Mahasisawa Lampunga Barat IKPM Lam-Bar Yogaykarta untuk mencoba menelusuri hingga kesumbernya agar salah satu komponen dari kesenian itu tidak punah.
Sebagaimana salah satu program kerja organisasi Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Lampung Barat IKPM Lam-Bar Yogyakarta khususnya pada departemen penelitian dan pengembangan (LITBANG) yaitu dapat menghasilkan suatu karya-karya ilmiah demi terwujudnya pelajar mahasiswa yang berasal dari Lampung Barat yang kreatif dan berkepedulian, maka peneliatian tentang serdam dianggap penting untuk diangkat karena serdam merupakan musik tradisional khas lampung barat yang hampir punah dan akan hilang dari tengah-tengah masyarakat Lampung Barat.

Serdam merupakan alat musik tiup tradisional yang terbuat dari bambu bersuara merdu menyayat hati, dengan pembawaan nada dari sang peniup untuk mengungkapkan isi hati. Alat musik tiup tradisional ini begitu merakyat pada masyarakat Lampung Barat khususnya masyarakat kerajaan skala brak yang tinggal di sekitar gunung pesagi, menurut narasumber kami ( Haidar Hadi HS. Gelar raja singa penata suku) yang juga salah satu orang yang disegani di daerah pekon (desa) Kenali Kecamatan Belalau dan memang daerah ini adalah bagian dari empat kepaksian dari kerajaan yaitu paksi buay belunguh, serdam adalah alat kesenian asli sekala brak.
Sekala brak adalah sebuah kerajaan yang terdiri dari empat kepaksian, paksi buay belunguh, paksi buay pernong, paksi buay bejalan diway, dan paksi buay nyerupa. Keempat paksi memiliki sultan dan wilayah kekuasaan masing masing namun masih dalam satu kebudayaan besar yaitu kebudayaan kerajaan sekala brak. Saat ini daerah kerajaan sekala brak bertepatan dengan daerah otonomi Kabupaten Lampung Barat.

Salah satu alat musik tradisional yang berkembang di daerah kerajaan skala brak adalah serdam khususnya di daerah pekon kenali, serdam berkembang mulai abad 6, + pada 625 M. Muncul seiring dengan adanya kerajaan skala brak. Menurut bapak haidar suara serdam ini nyuara senuman yakni seperti suara makhluk halus, hingga ketika orang yang mendengarkannya akan terpaut hatinya karena kekhasan bunyinya yang sendu atau sedih. Bisaanya serdam ini dimainkan oleh seseorang yang memiliki kegalauan hati atau meratapi kesedihan atas kenyataan yang menimpa diri.

Bapak Haiman Sukri seorang seniman tua dari pekon kenali menyebutkan ada dua macam nada dasar serdam yaitu, nada nguin (tinggi), nada ngurom (rendah). Namun dari dua nada dasar tersebut serdam juga memiliki tiga macam nada pokok (tabuhan) yang merupakan nada yang telah tercipta dari nenek moyang terdahulu, yaitu:
1. Tabuh Nyunyong Naluk Kumbang.
2. Tabuh Bebay Tuha Tukkop Lasuhan.
3. Tabuh Ngehahado/ Mahapan.

Pemerintah daerah Lampung-Barat dalam mengembangkan pariwisata daerah melalui salah satu dinasnya melakukan program tahunan yakni menggelar Festival Teluk Stabas yaitu suatu kegiatan yang didalamnya berisi banyak kegiatan yang nantinya dapat menunjang suksesnya pariwisata di Lampung Barat mulai dari rangkaian kegiatan atraksi budaya, olahraga, kreativitas kerajinan tangan masyarakat dan masih banyak lagi, yang penyajiannya dapat berupa perlombaan ataupun sekedar atraksi dan hiburan. Salah satu perlombaan yang juga tidak ketinggalan yaitu perlombaan kesenian tradisi setempat seperti nyambai, orkes gambus, muayak dan sastra lisan lainnya. Namun dalam perjalanannya dari tahun ketahun, ternyata dapat dilihat dengan mata kepala sendiri bahwa sedikit demi sedikit para pelaku kesenian tersebut adalah sebagian besar para orang tua bahkan lanjut usia, mulai dari pemain musik tradisionalnya hingga para penari dan penyanyi pantun-pantun kelasiknya. Dari sini timbul pertanyaan dimana peran para pemuda untuk mampu mempertahankan kebudayaannya sendiri. Bahkan banyak saat ini penampilan kesenian tradisi yang pada tahun yang lalu ada namun pada tahun tahun belakangan ini sudah tidak terlihat lagi. Dan itulah yang terjadi pada alat musik serda. Berkaca dari kegiatan besar yang tiap tahun dilakukan seperti festival diatas sepertinya benar jika dugaan bahwa lambat laun akan banyak tradisi-tradisi yang punah.

Dari penulis kiranya dari seluruh pemilik budaya tradisi yang luhur perlu diperhatikan dan diambil nilai positifnya dari beberapa solusi dibawah ini:
1. Kita sebagai putra-putri daerah baik tua ataupun muda kurang minat dan semangat untuk menambah keilmuan dan kaligus membaca realita mengenai budaya kita sendiri sehingga persoalan yang terjadi tentangnya tidak terfahami.
2. Tidak adanya fasilitas dan minimnya sumber daya manusia untuk pelestarian kesenian daerah yang menyebar hingga kepelosok pekon (desa) disuatu daerah seperti sanggar seni, alat-alat kesenian, dapat melemahkan kuatnya budaya tradisi lokal. Selain sebagai benteng kepunahan juga berfungsi sebagai objek pariwisata budaya.
3. Pegawai, perangkat atau jajaran pemerintahan jangan sampai tidak mengerti kebudayaan seperti sejarah –sejarah dan kesenian tradisi setempat, sehingga kebijakan dan pembangunan didaerah kurang mempertimbangkan kebudayaan setempat. Yang seharusnya sebagai pengayom yang melayani masyarakat harus menjadikan kebudayaan setempat menjadi tolak ukur.
4. Nilai falsafah ”Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung” sangat perlu tertanam dalam hati dan amal bagi setiap lapisan masyrakat dan jajaran pemerintah, tidak memandang dari mana ia berasal.
5. Perhatian dan penghargaan dari Pemerintah Daerah terhadap seniman-seniman dan karyanya dianggap perlu, karena walaupun sudah lanjut usia namun masih memiliki semangat untuk mempertahankan kelestarian kesenian daerah.
6. Belum adanya perhatian lebih untuk mengenalkan budaya lokal dalam proses belajar mengajar disekolah, jika ada maka diharapkan seluruh pelajar (pemuda) tidak asing dengan kesenian tradisi daerahnya sehingga mereka memiliki bekal untuk mengenal dan mencintai. Seperti yang diungkapkan Dr. Ir. Syamsul Arifin Siradz, M. Sc.(tokoh adat asal sebarus) Pada dialog kebudayaan bersama Drs. H. Mukhlis Basri (Bupati Lampung Barat) dan Bapak Sholeh UG (utusan Pangeran Edward Syah Pernong) yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Lampung Barat di Yogyakarta.

*Secara lebih lengkap mengenai artikel ini (serdam) anda dapat membaca laporan penelitian kami di Asrama Mahasiswa Lampung. Jl.Pakuningratan no.7 Jetis Kota Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar